Showing posts with label PERSAHABATAN. Show all posts
Tentang Persahabatan (4)
Pernikahan menurut saya adalah salah satu tahapan hidup yang begitu sakral sekaligus tanda sudah dewasanya seseorang. Ia adalah salah satu terminal dalam hidup yang penting dan diidam-idamkan oleh mereka yang sudah siap. Beruntunglah mereka yang sudah melalui terminal hidup bernama pernikahan ini. Mereka beruntung karena apa yang mereka lakukan adalah ibadah. Suami yang mencari nafkah untuk keluarganya bernilai ibadah. Juga bernilai sedekah. Istri yang menurut pada suaminya yang baik juga bernilai ibadah. Alangkah banyaknya ladang ibadah saat seseorang sudah berada dalam naungan pernikahan.
Setelah Dickky melepas masa lajangnya tahun 2015 lalu, kini satu lagi diantara kita bertiga yang telah memasuki level baru dalam kehidupannya. Tanggal 14 Oktober 2017 lalu Rizki telah melepas masa lajangnya. It feels like time flies very fast. Rasanya baru kemarin kita berkenalan di PCPM BI. Tiba-tiba kini Dickky sudah menjadi seorang papah muda dan Rizki pun sudah menikah. Saya merasa senang sekali sekaligus merasa terintimidasi secara kejiwaan (hahaha) karena berarti tinggal saya saja yang belum menikah. Duh, bagaimana ini, netizen yang budiman? Haha.
| Rizki dan Farah Sumber : Rizki's Instagram |
Saya bertemu pertama kali dengan Farah saat Rizki mengenalkannya di Jakarta sekaligus pas diminta menjadi groomsmen atau pager bagus di pernikahan mereka. Saya dan Dickky menjadi groomsmen di resepsi pernikahan mereka. Farah orangnya seru, berwawasan luas, humble, dan jago banget bahasa Mandarin. Pokoknya kalau membicarakan Farah si Rizki beruntung banget deh. Haha. Udah cantik, baik, bersahaja, pintar pula. Komplit kan ya?
Farah juga saya rasa sangat beruntung karena bisa menua bersama Rizki, sosok sahabat yang saya kenal sangat ramah, pintar, humoris, bersahaja, dan bertanggung jawab. Ya begitulah, orang baik akan dipertemukan dengan orang baik juga. Goodness will always be rewarded by goodness.
Tanggal 14 Oktober 2017 lalu tepatnya, Rizki dan Farah melangsungkan akad nikah dan resepsinya di Jakarta, tepatnya di Aula Dhanapala Kementerian Keuangan dan menjadi salah satu pernikahan paling indah yang pernah saya datangi. Senang sekali melihat mereka berdua tersenyum saat duduk di pelaminan. Oh ya, pernikahan mereka menggunakan adat Palembang. Ini pertama kali saya mengikuti resepsi dengan adat Palembang. Farah sangat terampil dan keren saat membawakan tarian tradisional Palembang pada saat resepsi. Selalu bangga saat hadir dalam pernikahan yang mengusung tema-tema budaya Nusantara. Tanda kita menghargai budaya bangsa dan asal-usul kita.
Finally, selamat Ki! Akhirnya punya gelar sebagai suami juga ya. Semoga sakinah mawaddah warrohmah bersama Farah.
PS: Di bawah ini beberapa foto kita pada saat resepsi pernikahan Rizki dan Farah.
(Kamu kapaaannn Wan?)
![]() |
| Dickky and Ridwan are busy eating satay. Hahaha. |
![]() |
| Listening to Leo's funny stories... Hahaha |
| With Pengantin dari Palembang |
Tentang Persahabatan (3)
Halo! Apa kabar kalian di sana? Semoga sehat dan bahagia selalu. Saat sedang menulis post ini saya sedang berada di Bandara Soekarno-Hatta. Saya sedang menanti pesawat yang akan membawa saya kembali ke Aceh pasca dinas di Jakarta. Sambil menunggu pesawat, saya pikir ada baiknya sambil menulis di blog. Sudah lama juga saya tidak nge-blog lagi. Di tulisan kali ini saya akan melanjutkan update cerita kami bertiga. Dua cerita kami sebelumnya dapat kalian baca di sini.
Sebagai informasi awal, hari Rabu-Jumat kemarin saya, Dickky, dan Rizki berkumpul di Jakarta. Dan seperti biasa, bertemu dengan mereka selalu membawa inspirasi bagi saya. Mungkin karena mereka yang bawaannya selalu bersahaja, ramah, simpel, lucu, dan apa adanya. Setiap update kegiatan mereka selalu memberikan dorongan bagi saya untuk menjadi orang yang lebih baik. Perjalanan hidup yang mereka lalui kali ini entah mengapa membuat saya semakin percaya pada pernyataan:
"Jika niat dan tujuan kita baik, maka Tuhan akan selalu mempermudah kita untuk mencapai tujuan yang dimaksud"
Dan kali ini saya akan menyampaikan update serta highlight berbagai kabar gembira dari kami. Mudah-mudahan dapat menginspirasi kalian di sana:
Yeaaay! Kabar ini mungkin merupakan salah satu kabar paling membahagiakan dari Dickky setelah kabar pernikahannya beberapa tahun lalu. So yeah, again, congratulations, Dik! Putranya Dickky lahir pada bulan September 2016 lalu. Dan tentu putranya ini lucu sekali. Selalu senang kalau melihat fotonya di Instagram atau dari handphone-nya Dickky saat kita meet up. Anyway, nama putranya Dickky juga keren abis, guys. Keponakan baru kita ini namanya Kaindra Kaffi. Panggilannya Kai. Seperti akulturasi yang apik antara nama Indonesia dan Timur Tengah ya. It must be so exciting and a life-changing experience after becoming a father. Dickky kini punya titipan baru, seorang putra yang bernama Kai. Dan kini doi semakin terlihat dewasa dan bertanggung jawab. Tidak banyak yang dapat kita berikan kepada Kai selain mendoakan agar Kai bisa menjadi anak yang sholeh, sehat, pintar, banyak rezeki, dan selalu dapat membanggakan kedua orang tuanya. The picture of Kai below can speak more about how cute this baby boy is :)
![]() |
| Say hi to om Ridwan and Om Rizki, Kai! Welcome to the world, Dickky Junior a.k.a Kaindra Kaffi! Whishing this cute baby boy love, happiness, and all the best things in his life ahead. |
Bulan November 2016 kemarin Dickky berkunjung ke Aceh. Kunjungan tersebut masih dalam rangka dinas ke daerah. Sangat senang sekali mendengar kabar kalau ada sahabat yang akan berkunjung ke Aceh. Seakan-akan ditengok di tanah rantau. Dengan kunjungan tersebut, akhirnya target Dickky untuk menapakkan kaki di provinsi paling barat dan paling timur Indonesia telah tercapai. Hahaha. Setelah sebelumnya sempat dinas ke Papua, kini Dickky mendapat giliran untuk dinas ke Aceh. Di Aceh, kami pun bertemu dan berbincang-bincang beberapa hal hingga larut malam di sebuah warung kopi. Namun demikian, kunjungan dinas tersebut hanya terbatas beberapa hari saja. Dan sayangnya lagi, saya pun di keesokan harinya harus dinas ke Medan sehingga hanya bisa catch-up dari sore, malam, dan pagi harinya saja. Selain ngobrol di warung kopi, kami juga menyempatkan untuk berkunjung dan shalat shubuh di Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi icon Aceh. Setelah itu, kita langsung motor-motoran ke pelabuhan Ulee Lheu untuk melihat sunrise. Hahaha. Dingin banget shubuh-shubuh pakai motor. Wkwkwkwk. However, it was a very well-spent time. Namun sayang sekali belum ada Rizki yang saat itu masih ada di Palu. Rizki juga ingin sekali menginjakkan kakinya di tanah Serambi Mekkah ini.
![]() |
| Ngobrol di salah satu warung kopi bareng Dickky yang lagi dinas ke Aceh. Update kehidupan till midnight. Anyway, baru sadar juga kalau kacamata kita bentuknya hampir sama ya. Hahaha. |
Wow! Kabar yang super baik juga datang dari Rizki di awal tahun 2017 ini. Per Januari 2017 ini, Rizki resmi dipindahkan dari Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Tengah di Palu ke Kantor Pusat Bank Indonesia di Jakarta. Rizki lebih tepatnya pindah ke bagian Financial Technology yang berada di bawah Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP). Rizki sekarang telah mengikuti Dickky bekerja di BI Pusat, Jakarta. Dickky juga baru pindah ke Departemen Stabilitas Sistem Keuangan (DSSK), setelah sebelumnya berada di Departemen Pengelolaan Sistem Pembayaran (DPSP). It is indeed such a great news for me! I hope they can be even better in their new environment. Di samping itu, Rizki juga akan memiliki event yang sepertinya luar biasa spesial di akhir tahun nanti. Dan kami sangat menantikan event tersebut.
Pertemuan kemarin juga terasa istimewa karena dapat melihat Rizki ikut berpartisipasi aktif menjadi salah satu tim kampanye ketua IPEBI (Ikatan Pegawai Bank Indonesia). Sebagai informasi, saat ini kita akan melaksanakan pemilihan ketua dari IPEBI periode 2017-2020 tanggal 20 Februari 2017 nanti. Seru juga karena kampanye para calon ketua IPEBI ini jauh berbeda dengan kampanye politik di Pilkada yang penuh dengan drama dan kepentingan kelompok. Foto di bawah adalah saat kita tiba-tiba kedatangan Pak Imam Subarkah, salah satu calon ketua IPEBI yang Rizki dukung. Beliau antusias untuk ikut berfoto dengan kita-kita yang pada masih muda. Bagi saya sendiri, siapapun nanti yang akan terpilih, semoga itu yang terbaik dan bisa membawa perbaikan pada BI, khususnya bagi seluruh pegawai BI.
![]() |
| Foto bersama Pak Imam, calon ketua IPEBI yang didukung Rizki. Bersama balon-balon yang dibawa Rizki saat melakukan aksi kampanye untuk beliau. We are cute, aren't we? Haha |
Pertemuan kali ini bersama Dickky dan Rizki juga memberikan bukti bahwa balasan bagi orang baik adalah kebaikan. Dan sekali lagi, seperti disampaikan di bagian paling awal dari post ini, kali ini saya belajar dari perjalanan mereka berdua bahwa:
"Jika niat dan tujuan kita baik, maka Tuhan akan selalu mempermudah kita untuk mencapai tujuan yang dimaksud"
Pernikahan, mempunyai keturunan, serta bekerja di tempat yang diinginkan adalah hasil dari usaha dan doa yang Dickky dan Rizki telah lakukan. Semoga kita tetap tawadhu dan konsisten dalam jalan kebaikan ya teman-teman.
Oleh karena itu, saat kita memiliki niat dan tujuan baik,
selalu ingat satu hal bahwa niat kita itu sudah dicatat sebagai sebuah pahala
kebaikan. Dan Tuhan Yang Maha Pemurah sangat sayang pada kita yang memiliki
niat baik tersebut. Oleh karenanya, Dia akan membentangkan jalan kemudahan agar
niat atau tujuan kita itu dapat terwujud. Terwujud pada waktu yang betul-betul tepat.
Semoga kita bisa tetap menjadikan sabar dan tawakkal sebagai kunci bagi kita dalam menunggu realisasi hasil dari
niat baik kita tersebut. Dan saya percaya, hal tersebut sepertinya sudah dialami oleh Dickky dan Rizki melalui usaha dan doa mereka.
Sebagai penutup, ada satu lagi yang saya suka saat chatting/texting dengan mereka saat waktu sholat tiba di Jakarta kemarin. Kurang lebih seperti ini:
Ridwan : "Udah pada ke masjid?"
Dickky : "Aku udah di masjid, Wan..."
Rizki : "Aku udah di masjid, Wan..."
Kalian bisa lihat 'kan? Mereka selalu menginspirasi untuk beribadah lebih baik dari waktu ke waktu.
Demikian guys, update cerita kami. Bagi siapapun
kalian, baik sengaja maupun tidak sengaja membaca post ini, semoga konten di dalamnya dapat menambah semangat hidup
kalian dalam kebaikan. Untuk selalu menyebarkan kebaikan. Semoga akan terus ada kabar baik dari kami yang bisa menginspirasi kalian di masa-masa mendatang! Catch you later with our other stories, guys!
![]() |
![]() |
| Since 2014 Atas ke bawah : 2017, 2016, 2014 |
Tentang Persahabatan (2)
![]() |
| Left to right : Rizki - Ridwan - Dickky Jakarta - Bandung - Surabaya UI - UNPAD - UNAIR Bank Indonesia |
Hari ini saya merasa sangat bahagia mengetahui bahwa post saya yang berjudul "Tentang Persahabatan" menjadi salah satu post yang paling banyak dikunjungi selain tulisan tentang PCPM. Terima kasih bagi kalian yang sudah mau membaca post tersebut. Semoga bermanfaat dan dapat dorongan untuk lebih mencintai orang-orang penting dan berharga di dalam hidup kalian.
Tulisan tersebut memang dikhususkan untuk mengenang sahabat kami, Alm. Deden serta mengungkapkan rasa syukur saya karena telah dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang begitu baik seperti Dickky dan Rizki.
Sekedar update, bulan Juni ini, saya dan Rizki dapat dinas bareng di Jakarta. Biasanya jarang sekali kita dinas bareng. Maklum, saya yang di Aceh dan Rizki yang di Palu berada dalam Unit yang berbeda sehingga jarang sekali ada satu dinas yang kita ikuti bersama. Namun di awal tahun ini Rizki masuk ke Unit Asesmen Ekonomi dan Keuangan, sama dengan saya, sehingga sudah ada dua kali dinas yang saya ikuti bersama Rizki.
Kesempatan tersebut tentu kami gunakan untuk reuni bareng Dickky secara langsung dan juga dengan teman-teman alumni PCPM 31 lainnya. Meskipun sudah tidak ada lagi gelak tawa dan candaan khas Deden, tapi kami sangat senang sekali bisa bertemu dan reuni lagi bertiga. Komplit! Jarang-jarang soalnya bisa ngumpul komplit seperti ini. Kita sering dinas ke Jakarta, tetapi jarang berbarengan. Dan tanpa terasa ini sudah hampir dua tahun kita bertiga tidak bertemu secara komplit! Wow!
Tidak ada yang berubah kecuali Rizki yang sepertinya bertambah subur (Haha) dan Dickky yang telah menikah. Karena jarak dan kesibukan di daerah masing-masing, terpaksa dulu kita tidak bisa hadir di nikahannya Dickky.
And you know what? Sekarang kami sedang menunggu kelahiran keponakan pertama kami dari Dickky (Yeaaay! So excited!). Insya Allah Agustus tahun ini lahirannya. Mohon doanya ya supaya dilancarkan segala proses persalinannya.
And you know what? Sekarang kami sedang menunggu kelahiran keponakan pertama kami dari Dickky (Yeaaay! So excited!). Insya Allah Agustus tahun ini lahirannya. Mohon doanya ya supaya dilancarkan segala proses persalinannya.
Kemarin sebelum kita pulang kembali ke Aceh dan Palu (Serta Dickky yang akan dinas ke Swedia), kami sempatkan juga untuk foto bareng. Ini merupakan foto yang cukup simple dan bersahaja. But we really love it!
We will make other new reunions for sure in forthcoming days ahead.
Until that time, guys!
We will make other new reunions for sure in forthcoming days ahead.
Until that time, guys!
![]() |
| See? Rizki is getting more "Subur". Meanwhile Dickky and I remain "Kurus" Hahaha. |
![]() |
| 2014 versus 2016 |
Jakarta, 17 Juni 2016
UPDATE: klik link di sini untuk melihat update cerita terbaru kami. Ada beberapa kabar bahagia di sana.
UPDATE: klik link di sini untuk melihat update cerita terbaru kami. Ada beberapa kabar bahagia di sana.
Tentang Persahabatan
Do you believe that friendship is one of the most beautiful
things in the world?
Well, I do believe that. I really do.
![]() |
| Kiri ke Kanan : Dickky, Ridwan, Deden (Almarhum), dan Rizki |
Terlepas dari apapun kepribadian yang kamu miliki (Entah itu ekstrovert, introvert, sanguinis, koleris, melankolis, plegmatis, dominant, influental, steady, conscientious atau apapun yang sering disebutkan oleh para ahli psikologi), pada dasarnya kamu tetaplah seorang makhluk sosial. Kamu pasti akan selalu membutuhkan orang lain, termasuk sahabat-sahabatmu.
Sosok-sosok yang selalu jujur dalam mendukung keberhasilanmu. Mereka yang membantumu saat hidup terasa begitu berat untuk dijalani. Mereka yang mendorongmu saat dirimu merasa ragu, atau sekedar menambahkan sedikit unsur humor di setiap episode kelabu dalam kehidupanmu. Atau mungkin, sesederhana menjadi tempat berbagi cerita tentang apa saja yang sudah dialami oleh masing-masing kalian di setiap harinya. Ah, apapun itu, beruntunglah kalian yang mempunyai sahabat-sahabat seperti itu.
Kali ini akan saya ceritakan kepada kalian tentang kisah persahabatan
yang saya miliki dengan Deden, Dickky, dan Rizki. Namun kali ini saya
akan lebih banyak bercerita tentang Deden, sahabat karib kami yang telah wafat dan pergi
mendahului kami bertiga tepat dua minggu lalu di Papua.
Saya masih teringat pertama kali bertemu orang-orang baik ini adalah saat kami berempat masuk
sebagai pegawai Bank Indonesia. Kami adalah angkatan ke-31 dari rekrutmen
pegawai Bank Indonesia, PCPM namanya. Saya bertemu Deden dan Dickky pertama
kali pada saat pembukaan pelatihan PCPM yang pertama di Gedung Kebon Sirih BI. Sementara itu saya mengenal Rizki pada saat kami melaksanakan Samapta (Latihan
Semi-Militer) di Sukabumi. Pada saat itu, saya masih ingat Deden yang pertama
kali menyapa saya dengan logat Surabayanya yang khas. Dickky juga
demikian. Saat pertama kali bertemu
dengan mereka, kesan pertama yang muncul adalah mereka orang-orang baik nan bersahaja. Begitu pun
dengan Rizki yang juga ternyata adalah teman SMA dari teman saya saat kuliah di
Unpad dulu. Diantara mereka bertiga, Deden adalah orang yang paling jenaka, humoris, dan selalu mencairkan suasana.
Sewaktu Samapta dulu, Deden pernah membuat semua orang
terbahak-bahak, termasuk saya sendiri. Pada waktu itu, saat jam-jam istirahat
sore di mana semua orang sedang asyik beristirahat, bersih-bersih dan
ngobrol-ngobrol santai, tiba-tiba pelatih kami menyalakan sirine tanda berkumpul
di lapangan secara tiba-tiba. Sontak, kita semua kaget! Ada yang masih di kamar
mandi, nongkrong, bahkan ada yang masih belum ganti pakaian sama sekali! Hahaha.
![]() |
| Kami semua, satu angkatan, saat Samapta PCPM 31-2 BI |
Pada waktu itu semua terlihat kacau dan chaos. Semua orang segera beres-beres dan berlari-lari ke tengah
lapangan. Jika sekali saja kita terlambat, maka siap-siap sanksi akan diberikan kepada
kita. Sontak semua orang berlari seadanya. Ada yang masih pakai handuk, baju
dalam, dan celana pendek, hingga pada suatu ketika pelatih kita menanyakan hal ini:
“Siapa diantara kalian yang tidak memakai celana dalam? Ayo
maju! Ayo ngaku!”
Tanya sang pelatih dengan tatapan tajam, suara lantang, dan wajah tegasnya.
Serempak semua orang terdiam. Tegang. Namun demikian, di tengah keheningan itu, majulah
sosok Deden yang mengacungkan tangannya. Dengan gagah berani Deden maju ke
depan dan mengaku bahwa dia tidak sempat
memakai celana dalam saat sirine berbunyi. Saat itu Deden ternyata masih ada di
kamar mandi. Hahahaha. Dalam hati saya sempat bertanya-tanya : "Buset, si Deden berani banget ngaku gak pake celana dalam, dihadapan semua orang pulak...Waduh Den...". Sontak pengakuan jujur Deden tersebut mengundang tawa
dari seluruh peserta. Semuanya tidak menyangka ada orang yang selugu dan
sejujur Deden. Sungguh sangat lucu kejadian itu kalau diingat. Namun demikian, dari sana kita tahu
bahwa Deden orangnya sangat jujur dan memiliki integritas yang tinggi. Pada
akhirnya, pelatih dan para peserta pun memuji kejujuran Deden. Pada waktu itu,
Deden hanya bisa tertawa-tawa lugu dan lucu. Mungkin diselingi rasa malu juga
tentunya. Hehehe.
Waktu berlalu dan akhirnya setelah kegiatan Samapta selesai,
kami melanjutkan program pelatihan PCPM selanjutnya, yakni Klasikal. Kegiatan tersebut berbentuk kegiatan
belajar mengajar di kelas selama kurang lebih 3 bulan. Kebetulan pada waktu itu,
saya, Deden, Dickky, dan Rizki disatukan dalam satu kelas. Dari sanalah kami
mulai akrab meskipun sebelumnya kami sempat saling berkenalan satu sama lain, namun karena kita berbeda kelompok saat Samapta, jarang sekali komunikasi yang
kita lakukan kecuali saat istirahat dhuhur dimana saya acapkali
melihat mereka di barisan awal shaf sholat. Kami pun akhirnya bertemu
kembali dan duduk berdekatan satu sama lain. Dari sanalah saya dan mereka
bertiga mulai akrab dan menjadi teman baik.
Kegiatan Klasikal sangat padat dan
cukup menguras otak dan tenaga. Hampir setiap hari kita harus menghadapi ujian
dari beberapa materi yang disampaikan oleh para pengajar dari mulai ekonomi,
kebijakan BI, hingga urusan arsip dan logistik. Hahahaha. Tidak jarang kami
sekelas melakukan inisiasi kegiatan belajar mengajar setelah pelajaran usai.
Kelas kami memang kompak dan orang-orangnya sangat baik. Seringkali, setelah
pelajaran usai, biasanya saya, Deden, dan Dickky selalu belajar bersama di KFC
Kemang. Tempat langganan kami makan malam, belajar, dan mengulang materi-materi
yang telah dipelajari di kelas meskipun acapkali berakhir dengan
obrolan-obrolan jenaka. Hahahaha. Dari kami bertiga, Deden memang terlihat yang
paling santai, sementara saya dan Dickky biasannya cukup serius. Deden dengan
gaya khas Surabaya-nya terlihat sangat enjoy
meskipun besok pagi akan menghadapi beberapa mata pelajaran yang diujiankan.
Hahaha. Malah Deden kadang selalu membicarakan topik-topik di luar pelajaran,
dan acapkali kita berdua juga ikut terbawa membicarakannya sampai lupa waktu.
Biasanya kami selalu menggunakan mobil Dickky saat hendak belajar dari LPPI
Kemang di mana kami belajar ke lokasi KFC.
![]() |
| Kiri ke Kanan: Deden, Saya, dan Dickky. Setelah semalaman belajar di KFC Kemang. Hahaha. |
Deden adalah orang yang lucu nan khas. Dengan gaya logat
Suroboyonya, Deden acapkali memberikan joke-joke
yang mengundang tawa. Di kelas Deden menjadi salah satu icon kita dengan jargonnya Deden Wes Kesel (DWS). Hahaha. Saya pun
sering bercerita dan minta pendapat dari Deden soal pacaran, pernikahan, dan
hal-hal normal lainnya di usia kita yang sudah mencapai 20an. Sarannya sangat bagus, anyway.
![]() |
| Saya, Deden, dan Dickky bersama teman-teman kelas C lainnya. |
For your information,
Deden adalah sosok sahabat yang sangat rendah hati dan taat beragama. Acapkali
Deden dan Dickky selalu mengajak saya untuk shalat Dhuha. Di samping itu, Deden
dan Dickky juga paling rajin dalam menjalankan ibadah shaum sunnah seperti
shaum Daud dan shaum Senin-Kamis. Saya dan Rizki sepertinya masih jauh dari dua
orang sobat kami yang dua ini. Hahahaha. Deden dan Dickky selalu rajin
mengingatkan kami untuk menawarkan sholat Dhuha bareng-bareng. Saya pun
acapkali bertanya tentang bagaimana supaya bisa shaum secara rutin pada mereka.
Mudah-mudahan nanti saya sama Rizki juga bisa ikut seperti Deden dan Dickky,
rajin shaum sunnah. Di kelas, Deden juga terkenal dengan sikapnya yang selalu peduli dengan teman-temannya.
![]() |
| Kiri ke Kanan: Dickky, Deden, Leo, Saya, Alnopri, dan Rizki (Sore hari, saat hari terakhir klasikal) |
Waktu berlalu dan seluruh kegiatan PCPM pun selesai sudah. Kini
tibalah saat pengumuman penempatan kerja. Saya masih ingat pada hari-hari
terakhir sebelum kami berangkat ke daerah masing-masing. Saya ditempatkan di BI
Banda Aceh (Aceh), Dickky di BI Pusat (Jakarta), Rizki di BI Palu (Sulawesi
Tengah), dan Deden di BI Jayapura (Papua). Dulu Deden memang ingin sekali menjelajahi Indonesia bagian Timur. Bakalan seru katanya. Tidak seperti teman-teman kita yang lain, Deden tidak mau ditempatkan di BI Pusat di Jakarta. Deden lebih suka suasana kota yang tidak terlalu bising dengan hiruk pikuk aktivitasnya. Penempatan tersebut cukup sedih juga karena kita berempat
masing-masing ditempatkan di daerah yang berbeda-beda, berjauhan pula dari
ujung barat, tengah, hingga ujung timur Indonesia. Itu berarti bahwa kita pun
nantinya akan jarang untuk bertemu ramai-ramai untuk sekedar nongkrong dan bertukar cerita. Pada hari terakhir itu, masih
membekas di ingatan saya bahwa Deden ingin sholat di Masjid Istiqlal. Saya dan
Dickky pun setuju. Sementara Rizki tidak bisa ikut pada waktu itu. Pada saat itu,
kita memperdebatkan tentang hal yang cukup unik, yakni tentang kendaraan apa
yang akan kita gunakan, apakah mobil Dickky, Bus, atau taksi? Saat itu Deden
dengan yakin dan bersemangat mengajak kita untuk menggunakan bajaj. Hahahaha.
Lalu pergilah kami bertiga memakai bajaj kecil dengan eksotisnya, meskipun kami
harus berdesak-desakan. Namun rame dan asyik sekali pada saat itu. Hahaha. Kami
ngobrol dan tertawa-tawa di bajaj tersebut, membicarakan berbagai hal sepanjang
jalan. Saya masih teringat akan pertanyaan dan nasihat dari Deden saat itu:
“Pas nanti kita sudah
di BI daerah, kita masih bisa kayak gini gak ya? Ketawa-tawa, ngobrol-ngobrol
kayak gini. Aku takutnya kita pada berubah entar. Nanti jangan pada berubah ya...” Ucap Deden dengan riang diiringi simpul senyumnya yang ramah, sedangkan matanya
memandang jauh ke arah kubah Istiqlal.
Tidak disangka, ternyata saat itu adalah saat terakhir saya
melihat Deden. Beberapa bulan setelah kami kami bekerja di BI daerah
masing-masing, belum muncul juga kesempatan kami untuk bisa bertemu lagi satu
sama lain. Paling hanya via media sosial atau chating saja.
Hari itu, Selasa shubuh, entah kenapa saya sudah merasa siap
untuk pergi ke kantor pagi-pagi. Saya malah sudah siap-siap sebelum shubuh.
Namun begitulah, tak peduli seberapa semangat pun saya pada hari itu, ternyata
berita besar datang menghampiri saya. Takdir
Allah memang harus tiba pada waktunya. Shubuh itu, saya masih ingat Enggar mengonfirmasi
bahwa Deden telah meninggal dunia akibat kecelakaan tunggal di Papua.
Saat itu, saya betul-betul tidak percaya dan saya abaikan
karena Enggar memang selalu bercanda dan suka dibercandain di group WhattsApp
oleh anak-anak kelas C. Namun demikian, lama-kelamaan kondisi terasa makin
aneh. Setelah saya tinggal beberapa saat, notifikasi di WhattsApp terus
bertambah hingga ratusan, mengonfirmasi kebenaran meninggalnya Deden. Ternyata
betul. Deden telah pergi, meninggal saat dalam perjalanan tugas kantor di jalan
menuju Bandara. Saya langsung lemas. Terdiam. Jantung saya entah kenapa berdetak lebih
cepat. Badan terasa lebih hangat dari biasanya, bergetar. Saya terdiam. Lalu tak terasa air mata mengalir dengan sendirinya. Pada saat pagi itu pun saya sempatkan untuk menelepon Dickky guna mengonfirmasi kebenaran berita tersebut. Bahkan air mata pun tidak berhenti saat saya mengendarai
sepeda motor ke kantor. Sepanjang perjalanan selalu terbersit kenangan akan betapa baiknya Deden pada
saya dulu. Orang yang selalu ceria, tidak pernah mengeluh, dan selalu peduli
terhadap teman-temannya. Dan kini sosok baik hati itu sudah tidak ada lagi di dunia yang saya tinggali. Saya juga masih teringat akan mimpi Deden untuk melanjutkan kuliah S2-nya di luar negeri. Sama halnya dengan saya, Dickky, dan Rizki yang ingin melanjutkan sekolah di luar negeri. Sebuah keinginan yang mungkin terasa berat, namun tidak ada salahnya menginginkan atau memimpikan hal-hal yang baik, bukan?
Pagi itu pula, di kantor kebetulan ada agenda sharing rutin setiap
hari selasa. Air mata saya tahan dan sembunyikan selama
sharing tersebut berlangsung. Namun, di akhir acara Kepala
BI di Aceh juga ikut mengumumkan tentang berita tersebut. Saat itu pun, saya
sudah tidak bisa lagi menahan air mata saya. Saya menangis lagi saat
mendengar pengumuman dari beliau tersebut. Terlihat cengeng, bukan? Namun itulah mungkin bukti akan betapa besarnya perbuatan baik yang dilakukan oleh Deden kepada saya dan yang lainnya sehingga saat kehilangan sosok tersebut untuk selama-lamanya terasa berat dan memilukan, apalagi hal tersebut terkesan begitu tiba-tiba. Kematian memang datang tanpa suara. Yoga dan Fadhil akhirnya bisa menenangkan saya. Ya, saya
benar-benar masih berada dalam zona percaya dan tidak percaya akan kejadian
ini. Terasa terlalu cepat. Terasa terlalu singkat, namun saya percaya bahwa itu adalah jalan dan waktu yang terbaik bagi Deden untuk kembali kepada Penciptanya.
Saat kalian melihat status dari Deden di BBM dan Twitter
pribadinya, kalian akan melihat bahwa mungkin status itu memberikan pertanda
bahwa Deden akan segera mendahului kita bertiga.
Jenazah Deden akhirnya diterbangkan ke Jakarta untuk
selanjutnya dibawa ke Surabaya untuk dikebumikan. Dickky yang ditempatkan di
Jakarta ikut mengiringi jenazah hingga ke tempat peristirahatannya yang
terakhir di Surabaya. Sedih sekali tatkala saya yang di Aceh dan Rizki yang di Palu tidak
bisa mengiringi Deden untuk yang terakhir kalinya.
Begitulah persahabatan kami dengan Deden. Mungkin kalau
dihitung, umur perkenalan di antara kita kurang lebih baru setahun saja. Namun
ikatannya terasa sangat kuat dan tulus. Persahabatan yang baik dan tak terlupakan itu tidak hanya milik mereka para remaja yang duduk di bangku SMA. Saat kita kuliah, saat kita bekerja, kita akan bertemu dengan orang-orang baru yang akan mewarnai kehidupan kita di fase kehidupan selanjutnya. Dan mereka, tentu akan menjadi salah satu dari sahabat-sahabat terbaikmu. Buatlah ikatan persahabatan yang tulus dan kuat. Saling mendukung satu sama lain. Jagalah persahabatan itu hingga nanti kalian menikah, hingga masing-masing dari kalian telah renta, hingga pada saat kalian menoleh ke belakang, yang tersisa hanyalah keindahan dari ukhuwah dan persahabatan yang kalian bangun berdasarkan kasih dan kejujuran.
Juga, bersyukurlah jika sahabat-sahabat kalian itu masih ada di dunia ini. Karena ketika sudah berbeda alam nantinya, mungkin hanya doa dan mimpi yang bisa mempertemukan silaturrahim kalian. Seperti halnya yang saya, Dickky, dan Rizki alami saat ini.
Ya, meskipun kita sudah berbeda alam dengan Deden, namun almarhum selalu mempunyai tempat khusus di hati kita.
Ya, meskipun kita sudah berbeda alam dengan Deden, namun almarhum selalu mempunyai tempat khusus di hati kita.
Sampai jumpa Deden, sahabat kita yang mulia budinya, baik hatinya, serta ramah
pembawaanya.
---------------------------------------------------------------
Note:
Seminggu setelah wafatnya Deden, saya mendapatkan kesempatan
untuk dinas ke Jakarta. Saya bertemu Dickky di sana. Kami sepakat untuk ikut
kegiatan #saferunning 10k di sana. Kita sepakat berlari untuk Deden, #run4deden
kami menamainya karena Deden juga suka lari dan merupakan anggota BI Runner sewaktu
masa pendidikan dulu. Akhirnya meskipun dengan tertatih-tatih, saya dan Dickky
berhasil menyelesaikan lari sepanjang 10k. Farewell, cak Deden! Kami persembahkan medali ini buatmu, cak!
![]() |
| #run4deden |
In Memoriam : Aperiden Akbar, 1990-2015
UPDATE : Kita sudah reunian kemarin. Simak cerita reuni kami di sini
Ridwan Sobirin. Powered by Blogger.





















