Posted by : Ridwan Sobirin Sunday, December 18, 2011



















Maka tegaslah untuk memutuskan bahwa:

Waktu terbaik untuk berbahagia adalah sekarang.

Tempat terbaik untuk berbahagia adalah di sini.

Dan cara terbaik untuk berbahagia adalah membahagiakan orang lain

                                                                     (Mario Teguh)



Sore ini saya sengaja naik ke atas atap asrama di mana saya tinggal. Ingin merasakan sesuatu yang berbeda, heu. Sudah lama sekali saya tidak melakukannya. Sewaktu kecil saya sering melakukannya, terutama dengan ayah atau kakak saya. Sungguh rindu momen-momen seperti itu. Namun seiring dengan bertambahnya usia, semuanya terasa berbeda. Sepertinya aktivitas kampus dan berbagai idealisme mahasiswa yang ada pada diri saya tidak memberi kesempatan kepada saya untuk memikirkan hal-hal kecil seperti itu. Rindu memang.

Di atas atap asrama ini, semilir angin sore begitu sejuk dan menenangkan. Saya terbawa senyum. Daun pohon di depan asrama seakan mengajak mata saya untuk terus menikmati suasana sore yang begitu cerah nan berangin. Kini pohon depan asrama yang biasanya hanya bisa saya lihat dari bawah, sekarang dapat saya lihat semua hingga pucuk paling atasnya. 

Di langit, layang-layang begitu ramai menghiasi damainya langit senja kali ini. Saya terdiam sejenak menikmati keadaan, teringat sewaktu dulu saya rela kejar-kejaran di pematang sawah demi mendapatkan sebuah layang-layang yang putus talinya, namun indah ketika saya mengenangnya sekarang, heuheu. Jadi teringat teman-teman sewaktu kecil. Apa kabar mereka sekarang ya? 

Kemudian sambil membaringkan seluruh badan menghadap ke langit, hati mengajak logika manusiaku pergi ke alam kontemplasi. Ya, sebuah renungan sederhana:


Bagaimana hubunganmu dengan Tuhan sekarang?

Saya terdiam. Malu. Membisu. Mungkin saya lupa bahwa Tuhanlah Yang Maha Melakukan. Maha Mengabulkan. Maha Pemberi. Mungkin saya lupa bahwa Tuhan sebenarnya tidak mau saya seperti ini. Tuhan pasti menginginkan saya yang penuh dengan mimpi-mimpi gemilang. Penuh dengan optimisme. Penuh ambisi dalam kebaikan.

Terkadang mungkin saya lebih memikirkan mengenai solusi dari masalah dan tantangan yang saya sering hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Rumit memang. Namun ada yang saya lupakan ternyata. Tuhan bisa menyelesaikan semuanya. Bahkan dari arah yang tidak kita sangka kedatangannya. Tuhan pun sudah tahu apa keinginan serta mimpi-mimpi besar kita di dalam hati. 
Lalu kenapa kita lupa meminta kepada-Nya ya? Padahal dialah yang bisa membuat sesuatu yang menurut akal kita tidak mungkin terjadi, bisa menjadi sesuatu yang dapat terjadi. Itu mudah bagi-Nya. 

Ya, saya kira saya telah terlena dalam lupa; bahwa Tuhan akan bersama orang-orang yang baik. Dia bersama orang-orang yang memberikan kebaikan kepada sesama. Tuhan Maha Kaya. Maha Pengasih dan Penyayang, apalagi kepada hamba-Nya yang penurut. 

Tuhan Maha Memudahkan jalan. Sesulit apa pun itu.

Kini aku tahu, aku harus kembali mengadu kepada Tuhan. Dengan sejujur-jujurnya. Dengan Seikhlas-ikhlasnya. Alhamdulillah. 

Allah, jangan Engkau tinggalkan aku meski sekhilaf apapun diriku dulu.












Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Ridwan Sobirin. Powered by Blogger.

- Copyright © Ridwan's Personal Light Thoughts -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -