Comparison

 
It is a very short post containing a beautiful quote from Joko Anwar.
Happy contemplating!
 
While we are spending our energy hating someone's better than us, they are spending theirs to be even better. It is our loss.
 
- Joko Anwar -
Thursday, May 4, 2017
Posted by Ridwan Sobirin

Tentang Persahabatan (3)


Halo! Apa kabar kalian di sana? Semoga sehat dan bahagia selalu. Saat sedang menulis post ini saya sedang berada di Bandara Soekarno-Hatta. Saya sedang menanti pesawat yang akan membawa saya kembali ke Aceh pasca dinas di Jakarta. Sambil menunggu pesawat, saya pikir ada baiknya sambil menulis di blog. Sudah lama juga saya tidak nge-blog lagi. Di tulisan kali ini saya akan melanjutkan  update cerita kami bertiga. Dua cerita kami sebelumnya dapat kalian baca di sini.

Sebagai informasi awal, hari Rabu-Jumat kemarin saya, Dickky, dan Rizki berkumpul di Jakarta. Dan seperti biasa, bertemu dengan mereka selalu membawa inspirasi bagi saya. Mungkin karena mereka yang bawaannya selalu bersahaja, ramah, simpel, lucu, dan apa adanya. Setiap update kegiatan mereka selalu memberikan dorongan bagi saya untuk menjadi orang yang lebih baik. Perjalanan hidup yang mereka lalui kali ini entah mengapa membuat saya semakin percaya pada pernyataan:

"Jika niat dan tujuan kita baik, maka Tuhan akan selalu mempermudah kita untuk mencapai tujuan yang dimaksud"
 
Dan kali ini saya akan menyampaikan update serta highlight berbagai kabar gembira dari kami. Mudah-mudahan dapat menginspirasi kalian di sana:

 
1. Dickky sudah punya seorang putra
Yeaaay! Kabar ini mungkin merupakan salah satu kabar paling membahagiakan dari Dickky setelah kabar pernikahannya beberapa tahun lalu. So yeah, again, congratulations, Dik! Putranya Dickky lahir pada bulan September 2016 lalu. Dan tentu putranya ini lucu sekali. Selalu senang kalau melihat fotonya di Instagram atau dari handphone-nya Dickky saat kita meet up. Anyway, nama putranya Dickky juga keren abis, guys. Keponakan baru kita ini namanya Kaindra Kaffi. Panggilannya Kai. Seperti akulturasi yang apik antara nama Indonesia dan Timur Tengah ya. It must be so exciting and a life-changing experience after becoming a father. Dickky kini punya titipan baru, seorang putra yang bernama Kai. Dan kini doi semakin terlihat dewasa dan bertanggung jawab. Tidak banyak yang dapat kita berikan kepada Kai selain mendoakan agar Kai bisa menjadi anak yang sholeh, sehat, pintar, banyak rezeki, dan selalu dapat membanggakan kedua orang tuanya. The picture of Kai below can speak more about how cute this baby boy is :)
Say hi to om Ridwan and Om Rizki, Kai! Welcome to the world, Dickky Junior a.k.a Kaindra Kaffi!
Whishing this cute baby boy love, happiness, and all the best things in his life ahead. 
2. Dickky berkunjung ke Aceh
Bulan November 2016 kemarin Dickky berkunjung ke Aceh. Kunjungan tersebut masih dalam rangka dinas ke daerah. Sangat senang sekali mendengar kabar kalau ada sahabat yang akan berkunjung ke Aceh. Seakan-akan ditengok di tanah rantau. Dengan kunjungan tersebut, akhirnya target Dickky untuk menapakkan kaki di provinsi paling barat dan paling timur Indonesia telah tercapai. Hahaha. Setelah sebelumnya sempat dinas ke Papua, kini Dickky mendapat giliran untuk dinas ke Aceh. Di Aceh, kami pun bertemu dan berbincang-bincang beberapa hal hingga larut malam di sebuah warung kopi. Namun demikian, kunjungan dinas tersebut hanya terbatas beberapa hari saja. Dan sayangnya lagi, saya pun di keesokan harinya harus dinas ke Medan sehingga hanya bisa catch-up dari sore, malam, dan pagi harinya saja. Selain ngobrol di warung kopi, kami juga menyempatkan untuk berkunjung dan shalat shubuh di Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi icon Aceh. Setelah itu, kita langsung motor-motoran ke pelabuhan Ulee Lheu untuk melihat sunrise. Hahaha. Dingin banget shubuh-shubuh pakai motor. Wkwkwkwk. However, it was a very well-spent time. Namun sayang sekali belum ada Rizki yang saat itu masih ada di Palu. Rizki juga ingin sekali menginjakkan kakinya di tanah Serambi Mekkah ini.
Ngobrol di salah satu warung kopi bareng Dickky yang lagi dinas ke Aceh.
Update kehidupan till midnight.
Anyway, baru sadar juga kalau kacamata kita bentuknya hampir sama ya. Hahaha.
3. Rizki dipindahkan ke Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta.
Wow! Kabar yang super baik juga datang dari Rizki di awal tahun 2017 ini. Per Januari 2017 ini, Rizki resmi dipindahkan dari Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Tengah di Palu ke Kantor Pusat Bank Indonesia di Jakarta. Rizki lebih tepatnya pindah ke bagian Financial Technology yang berada di bawah Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP). Rizki sekarang telah mengikuti Dickky bekerja di BI Pusat, Jakarta. Dickky juga baru pindah ke Departemen Stabilitas Sistem Keuangan (DSSK), setelah sebelumnya berada di Departemen Pengelolaan Sistem Pembayaran (DPSP). It is indeed such a great news for me! I hope they can be even better in their new environment. Di samping itu, Rizki juga akan memiliki event yang sepertinya luar biasa spesial di akhir tahun nanti. Dan kami sangat menantikan event tersebut.

Pertemuan kemarin juga terasa istimewa karena dapat melihat Rizki ikut berpartisipasi aktif menjadi salah satu tim kampanye ketua IPEBI (Ikatan Pegawai Bank Indonesia). Sebagai informasi, saat ini kita akan melaksanakan pemilihan ketua dari IPEBI periode 2017-2020 tanggal 20 Februari 2017 nanti. Seru juga karena kampanye para calon ketua IPEBI ini jauh berbeda dengan kampanye politik di Pilkada yang penuh dengan drama dan kepentingan kelompok. Foto di bawah adalah saat kita tiba-tiba kedatangan Pak Imam Subarkah, salah satu calon ketua IPEBI yang Rizki dukung. Beliau antusias untuk ikut berfoto dengan kita-kita yang pada masih muda. Hehe. Sepintas saya rasa beliau sangat baik, berjiwa muda, ramah, dan energizing. Beliau sangat bersemangat. Saya belum mengetahui bagaimana pasangan calon yang lainnya. Namun demikian, siapapun nanti yang terpilih, semoga itu yang terbaik dan bisa membawa perbaikan pada BI, khususnya bagi seluruh pegawai BI.
Foto bersama Pak Imam, calon ketua IPEBI yang didukung Rizki.
Bersama balon-balon yang dibawa Rizki saat melakukan aksi kampanye untuk beliau.
We are cute, aren't we? Hehe.
Overall, saya bahagia sekali di awal tahun 2017 ini bisa catch-up lagi dengan mereka berdua dan berbagi inspirasi dari masing-masing perjalanan kami. Mereka berdua ini adalah orang baik yang selalu menginspirasi dari kesantunan mereka berinteraksi, dari kebersahajaan mereka, bahkan dari sifat kekanak-kanakan yang masing-masing kita bawa. Hahaha!

Pertemuan kali ini bersama Dickky dan Rizki juga memberikan bukti bahwa balasan bagi orang baik adalah kebaikan. Dan sekali lagi, seperti disampaikan di bagian paling awal dari post ini, kali ini saya belajar dari perjalanan mereka berdua bahwa:

"Jika niat dan tujuan kita baik, maka Tuhan akan selalu mempermudah kita untuk mencapai tujuan yang dimaksud"
 
Pernikahan, mempunyai keturunan, serta bekerja di tempat yang diinginkan adalah hasil dari usaha dan doa yang Dickky dan Rizki telah lakukan. Semoga kita tetap tawadhu dan konsisten dalam jalan kebaikan ya teman-teman.
Oleh karena itu, saat kita memiliki niat dan tujuan baik, selalu ingat satu hal bahwa niat  kita itu sudah dicatat sebagai sebuah pahala kebaikan. Dan Tuhan Yang Maha Pemurah sangat sayang pada kita yang memiliki niat baik tersebut. Oleh karenanya, Dia akan membentangkan jalan kemudahan agar niat atau tujuan kita itu dapat terwujud. Terwujud pada waktu yang betul-betul tepat. Semoga kita bisa tetap menjadikan sabar dan tawakkal sebagai kunci bagi kita dalam menunggu realisasi hasil dari niat baik kita tersebut. Dan saya percaya, hal tersebut sepertinya sudah dialami oleh Dickky dan Rizki melalui usaha dan doa mereka. 
 
Sebagai penutup, ada satu lagi yang saya suka saat chatting/texting dengan mereka saat waktu sholat tiba di Jakarta kemarin. Kurang lebih seperti ini:

Ridwan : "Udah pada ke masjid?"
Dickky : "Aku udah di masjid, Wan..." 
Rizki : "Aku udah di masjid, Wan..."
 
Kalian bisa lihat 'kan? Mereka selalu menginspirasi untuk beribadah lebih baik dari waktu ke waktu.

Demikian guys, update cerita kami. Bagi siapapun kalian, baik sengaja maupun tidak sengaja membaca post ini, semoga konten di dalamnya dapat menambah semangat hidup kalian dalam kebaikan. Untuk selalu menyebarkan kebaikan. Semoga akan terus ada kabar baik dari kami yang bisa menginspirasi kalian di masa-masa mendatang! Catch you later with our other stories, guys! 

Both of us are supporting Rizki as a part of Tim Kampanye pemilihan Ketua IPEBI.

Since 2014
Atas ke bawah : 2017, 2016, 2014
Monday, February 6, 2017
Posted by Ridwan Sobirin

I Am Sorry

Blue sky on my way to Jakarta. Flying Garuda Indonesia.

Dear God,
Thank  You for my life, for everything that I am blessed with, for the ups and downs, for the opportunities, privileges, and many other beautiful things that You have given me so far. 

Thank You for my life and the people in it; people who came for a reason and left, and those who came for a reason and stayed. 

Thank You for the pain which reminds me about the people who hurt me. But it doesn't mean they are bad, after all. You told me, it just means that their chapter in my life is over, right? 
So I let it slide.

And I am sorry. I really am.
I'm sorry for the sins I might have done, whether on purpose or unintentionally.

I'm so ashamed.

But if it's not too much to ask for, 
I beg You to enlighten what's dark in me, to strengthen what's weak in me.

Dear God,
I'm truly grateful for all the things You have done in my life.

I am.
I really am.


Best,
Ridwan
Sunday, August 7, 2016
Posted by Ridwan Sobirin

Tentang Persahabatan (2)

Left to right : Rizki - Ridwan - Dickky
Jakarta - Bandung - Surabaya
UI - UNPAD - UNAIR
Bank Indonesia
Halo teman-teman!
Hari ini saya merasa sangat bahagia mengetahui bahwa post saya yang berjudul "Tentang Persahabatan" menjadi salah satu post yang paling banyak dikunjungi selain tulisan tentang PCPM. Terima kasih bagi kalian yang sudah mau membaca post tersebut. Semoga bermanfaat dan dapat dorongan untuk lebih mencintai orang-orang penting dan berharga di dalam hidup kalian.

Tulisan tersebut memang dikhususkan untuk mengenang sahabat kami, Alm. Deden serta mengungkapkan rasa syukur saya karena telah dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang begitu baik seperti Dickky dan Rizki.

Sekedar update, bulan Juni ini, saya dan Rizki dapat dinas bareng di Jakarta. Biasanya jarang sekali kita dinas bareng. Maklum, saya yang di Aceh dan Rizki yang di Palu berada dalam Unit yang berbeda sehingga jarang sekali ada satu dinas yang kita ikuti bersama. Namun di awal tahun ini Rizki masuk ke Unit Asesmen Ekonomi dan Keuangan, sama dengan saya, sehingga sudah ada dua kali dinas yang saya ikuti bersama Rizki.

Kesempatan tersebut tentu kami gunakan untuk reuni bareng Dickky secara langsung dan juga dengan teman-teman alumni PCPM 31 lainnya. Meskipun sudah tidak ada lagi gelak tawa dan candaan khas Deden, tapi kami sangat senang sekali bisa bertemu dan reuni lagi bertiga. Komplit! Jarang-jarang soalnya bisa ngumpul komplit seperti ini. Kita sering dinas ke Jakarta, tetapi jarang berbarengan. Dan tanpa terasa ini sudah hampir dua tahun kita bertiga tidak bertemu secara komplit! Wow!

Tidak ada yang berubah kecuali Rizki yang sepertinya bertambah subur (Haha) dan Dickky yang telah menikah. Karena jarak dan kesibukan di daerah masing-masing, terpaksa dulu kita tidak bisa hadir di nikahannya Dickky.

And you know what? Sekarang kami sedang menunggu kelahiran keponakan pertama kami dari Dickky (Yeaaay! So excited!). InsyaAllah Agustus tahun ini lahirannya. Mohon doanya ya supaya dilancarkan segala proses persalinannya. 

Kemarin sebelum kita pulang kembali ke Aceh dan Palu (Serta Dickky yang akan dinas ke Swedia), kami sempatkan juga untuk foto bareng. Ini merupakan foto yang cukup simple dan bersahaja. But we really love it!

We will make other new reunions for sure in forthcoming days ahead.

Until that time, guys!

See? Rizki is getting more "Subur". Meanwhile Dickky and I remain "Kurus"
Hahaha.
2014 versus 2016

Jakarta, 17 Juni 2016

UPDATE: klik link di sini untuk melihat update cerita terbaru kami. Ada beberapa kabar bahagia di sana. 
Saturday, June 18, 2016
Posted by Ridwan Sobirin

Tentang Kehidupan Setelah PCPM

Life is so short. Make it great and memorable!
Halo, apa kabar?
Saya baru update blog lagi hari ini. Sorry, been a bit busy for a little while. Anyway, saya merasa terhormat juga setelah sekian lama saya cek blog, log in, lalu melihat bagian statistik dan ternyata ada puluhan ribu orang yang mengunjungi posts saya tentang PCPM. Meskipun terbatas, tetapi semoga posts tersebut bisa membantu dan memberikan semangat bagi kalian, putra-putri terbaik bangsa, untuk mempertimbangkan bergabung bersama BI.

Berikut 7 (Tujuh) tulisan yang terkait dengan PCPM saya gabung di sini: PCPM BI
Mostly post yang paling banyak dikunjungi adalah post ïni : Perjalanan Menuju BI : PCPM 31 BI
Jadi, bagaimana kabar saya dan teman-teman setelah lulus PCPM dan bekerja di Satuan Kerja/Departemen masing-masing di BI?

It feels great!

Selain mendapatkan hal-hal dan pelajaran-pelajaran baru di masing-masing Departemen/Satuan Kerjanya, kami juga mendapatkan banyak sekali pengalaman pergi traveling ke mana-mana. Sudah banyak sekali teman-teman PCPM angkatan saya yang ditempatkan di kantor pusat BI telah dikirim tugas ke luar negeri untuk belajar hal-hal baru dan training-training yang mengasah kompetensi dan kemampuan mereka. Ada yang ke Eropa, Amerika, Australia, Jepang, Korea, dll. 

Sementara itu, untuk teman-teman yang ditempatkan di daerah juga banyak sekali melakukan perjalanan dinas keliling Indonesia. Kegiatan-kegiatan BI tidak hanya terpusat diselenggarakan di Jakarta, tetapi banyak diselenggarakan di berbagai daerah seluruh Indonesia. Oleh karena itu, teman-teman di daerah biasanya sering sekali keliling Indonesia.  Malah intensitas traveling teman-teman di daerah biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan yang di BI Pusat.

Traveling dinas ini sangat menarik karena disamping dapat memperluas cakrawala dan mengenal budaya-budaya lain, kegiatan-kegiatan seperti ini kami rasakan sangat membantu memberikan suntikan semangat ditengah rutinitas pekerjaan masing-masing. Berbagai kegiatan ini juga menjadi momen bagi kami untuk reuni dengan teman-teman seangkatan PCPM yang biasanya selalu berakhir dengan gelak tawa, foto, dan makan rame-rame bersama.

Di samping itu, dengan adanya dinas ini, saat weekend kita juga bisa pulang dulu ke rumah, bertemu keluarga meskipun hanya satu atau dua hari saja. Hal tersebut dapat mengobati kerinduan kami yang jauh dari rumah. Saat kembali ke kantor kami jadi lebih semangat lagi untuk bekerja karena sudah bertemu keluarga. Hehe.

It feels so great working at Bank Indonesia. We are so grateful for that.

Really looking forward to meeting you as part of our big family someday.
Wish you all the best things in your life! 

Best,
Ridwan Sobirin (Autobiography)

PS:
Should you have any question regarding all of my posts, feel free to mention me (Not via Direct/Personal Message) on Twitter : 

@ridwansobirin 

Ciao! :)

Saat dinas di Lombok, Nusa Tenggara Barat


Saturday, June 11, 2016
Posted by Ridwan Sobirin
Tag :

Tentang Persahabatan

Do you believe that friendship is one of the most beautiful things in the world?
Well, I do believe that. I really do.

Kiri ke Kanan : Dickky, Ridwan, Deden (Almarhum), dan Rizki

Terlepas dari apapun kepribadian yang kamu miliki (Entah itu ekstrovert, introvert, sanguinis, koleris, melankolis, plegmatis, dominant, influental, steady, conscientious atau apapun yang sering disebutkan oleh para ahli psikologi), pada dasarnya kamu tetaplah seorang makhluk sosial. Kamu pasti akan selalu membutuhkan orang lain, termasuk sahabat-sahabatmu.

Sosok-sosok yang selalu jujur dalam mendukung keberhasilanmu. Mereka yang membantumu saat hidup terasa begitu berat untuk dijalani. Mereka yang mendorongmu saat dirimu merasa ragu, atau sekedar menambahkan sedikit unsur humor di setiap episode kelabu dalam kehidupanmu. Atau mungkin, sesederhana menjadi tempat berbagi cerita tentang apa saja yang sudah dialami oleh masing-masing kalian di setiap harinya. Ah, apapun itu, beruntunglah kalian yang mempunyai sahabat-sahabat seperti itu.

Kali ini akan saya ceritakan kepada kalian tentang kisah persahabatan yang saya miliki dengan Deden, Dickky, dan Rizki. Namun kali ini saya akan lebih banyak bercerita tentang Deden, sahabat karib kami yang telah wafat dan pergi mendahului kami bertiga tepat dua minggu lalu di Papua.

Saya masih teringat pertama kali bertemu orang-orang baik ini adalah saat kami berempat masuk sebagai pegawai Bank Indonesia. Kami adalah angkatan ke-31 dari rekrutmen pegawai Bank Indonesia, PCPM namanya. Saya bertemu Deden dan Dickky pertama kali pada saat pembukaan pelatihan PCPM yang pertama di Gedung Kebon Sirih BI. Sementara itu saya mengenal Rizki pada saat kami melaksanakan Samapta (Latihan Semi-Militer) di Sukabumi. Pada saat itu, saya masih ingat Deden yang pertama kali menyapa saya dengan logat Surabayanya yang khas. Dickky juga demikian.  Saat pertama kali bertemu dengan mereka, kesan pertama yang muncul adalah mereka orang-orang baik nan bersahaja. Begitu pun dengan Rizki yang juga ternyata adalah teman SMA dari teman saya saat kuliah di Unpad dulu. Diantara mereka bertiga, Deden adalah orang yang paling jenaka, humoris, dan selalu mencairkan suasana.

Sewaktu Samapta dulu, Deden pernah membuat semua orang terbahak-bahak, termasuk saya sendiri. Pada waktu itu, saat jam-jam istirahat sore di mana semua orang sedang asyik beristirahat, bersih-bersih dan ngobrol-ngobrol santai, tiba-tiba pelatih kami menyalakan sirine tanda berkumpul di lapangan secara tiba-tiba. Sontak, kita semua kaget! Ada yang masih di kamar mandi, nongkrong, bahkan ada yang masih belum ganti pakaian sama sekali! Hahaha.

Kami semua, satu angkatan, saat Samapta PCPM 31-2 BI
Pada waktu itu semua terlihat kacau dan chaos. Semua orang segera beres-beres dan berlari-lari ke tengah lapangan. Jika sekali saja kita terlambat, maka siap-siap sanksi akan diberikan kepada kita. Sontak semua orang berlari seadanya. Ada yang masih pakai handuk, baju dalam, dan celana pendek, hingga pada suatu ketika pelatih kita menanyakan hal ini:

“Siapa diantara kalian yang tidak memakai celana dalam? Ayo maju! Ayo ngaku!”
Tanya sang pelatih dengan tatapan tajam, suara lantang, dan wajah tegasnya.

Serempak semua orang terdiam. Tegang. Namun demikian, di tengah keheningan itu, majulah sosok Deden yang mengacungkan tangannya. Dengan gagah berani Deden maju ke depan dan mengaku bahwa dia  tidak sempat memakai celana dalam saat sirine berbunyi. Saat itu Deden ternyata masih ada di kamar mandi. Hahahaha. Dalam hati saya sempat bertanya-tanya : "Buset, si Deden berani banget ngaku gak pake celana dalam, dihadapan semua orang pulak...Waduh Den...".  Sontak pengakuan jujur Deden tersebut mengundang tawa dari seluruh peserta. Semuanya tidak menyangka ada orang yang selugu dan sejujur Deden. Sungguh sangat lucu kejadian itu kalau diingat. Namun demikian, dari sana kita tahu bahwa Deden orangnya sangat jujur dan memiliki integritas yang tinggi. Pada akhirnya, pelatih dan para peserta pun memuji kejujuran Deden. Pada waktu itu, Deden hanya bisa tertawa-tawa lugu dan lucu. Mungkin diselingi rasa malu juga tentunya. Hehehe.

Sisi Kanan: Saya, Rizki, Dickky, dan beberapa teman kami di PCPM 31-2 BI.

Waktu berlalu dan akhirnya setelah kegiatan Samapta selesai, kami melanjutkan program pelatihan PCPM selanjutnya, yakni Klasikal. Kegiatan tersebut berbentuk kegiatan belajar mengajar di kelas selama kurang lebih 3 bulan. Kebetulan pada waktu itu, saya, Deden, Dickky, dan Rizki disatukan dalam satu kelas. Dari sanalah kami mulai akrab meskipun sebelumnya kami sempat saling berkenalan satu sama lain, namun karena kita berbeda kelompok saat Samapta, jarang sekali komunikasi yang kita lakukan kecuali saat istirahat dhuhur dimana saya acapkali melihat mereka di barisan awal shaf sholat. Kami pun akhirnya bertemu kembali dan duduk berdekatan satu sama lain. Dari sanalah saya dan mereka bertiga mulai akrab dan menjadi teman baik. 

Kegiatan Klasikal sangat padat dan cukup menguras otak dan tenaga. Hampir setiap hari kita harus menghadapi ujian dari beberapa materi yang disampaikan oleh para pengajar dari mulai ekonomi, kebijakan BI, hingga urusan arsip dan logistik. Hahahaha. Tidak jarang kami sekelas melakukan inisiasi kegiatan belajar mengajar setelah pelajaran usai. Kelas kami memang kompak dan orang-orangnya sangat baik. Seringkali, setelah pelajaran usai, biasanya saya, Deden, dan Dickky selalu belajar bersama di KFC Kemang. Tempat langganan kami makan malam, belajar, dan mengulang materi-materi yang telah dipelajari di kelas meskipun acapkali berakhir dengan obrolan-obrolan jenaka. Hahahaha. Dari kami bertiga, Deden memang terlihat yang paling santai, sementara saya dan Dickky biasannya cukup serius. Deden dengan gaya khas Surabaya-nya terlihat sangat enjoy meskipun besok pagi akan menghadapi beberapa mata pelajaran yang diujiankan. Hahaha. Malah Deden kadang selalu membicarakan topik-topik di luar pelajaran, dan acapkali kita berdua juga ikut terbawa membicarakannya sampai lupa waktu. Biasanya kami selalu menggunakan mobil Dickky saat hendak belajar dari LPPI Kemang di mana kami belajar ke lokasi KFC.

Kiri ke Kanan: Deden, Saya, dan Dickky. Setelah semalaman belajar di KFC Kemang. Hahaha.











Deden adalah orang yang lucu nan khas. Dengan gaya logat Suroboyonya, Deden acapkali memberikan joke-joke yang mengundang tawa. Di kelas Deden menjadi salah satu icon kita dengan jargonnya Deden Wes Kesel (DWS). Hahaha. Saya pun sering bercerita dan minta pendapat dari Deden soal pacaran, pernikahan, dan hal-hal normal lainnya di usia kita yang sudah mencapai 20an. Sarannya sangat bagus, anyway.

Saya, Deden, dan Dickky bersama teman-teman kelas C lainnya.

For your information, Deden adalah sosok sahabat yang sangat rendah hati dan taat beragama. Acapkali Deden dan Dickky selalu mengajak saya untuk shalat Dhuha. Di samping itu, Deden dan Dickky juga paling rajin dalam menjalankan ibadah shaum sunnah seperti shaum Daud dan shaum Senin-Kamis. Saya dan Rizki sepertinya masih jauh dari dua orang sobat kami yang dua ini. Hahahaha. Deden dan Dickky selalu rajin mengingatkan kami untuk menawarkan sholat Dhuha bareng-bareng. Saya pun acapkali bertanya tentang bagaimana supaya bisa shaum secara rutin pada mereka. Mudah-mudahan nanti saya sama Rizki juga bisa ikut seperti Deden dan Dickky, rajin shaum sunnah. Di kelas, Deden juga terkenal dengan sikapnya yang selalu peduli dengan teman-temannya. 

Kiri ke Kanan: Dickky, Deden, Leo, Saya, Alnopri, dan Rizki (Sore hari, saat hari terakhir klasikal)

Waktu berlalu dan seluruh kegiatan PCPM pun selesai sudah. Kini tibalah saat pengumuman penempatan kerja. Saya masih ingat pada hari-hari terakhir sebelum kami berangkat ke daerah masing-masing. Saya ditempatkan di BI Banda Aceh (Aceh), Dickky di BI Pusat (Jakarta), Rizki di BI Palu (Sulawesi Tengah), dan Deden di BI Jayapura (Papua). Dulu Deden memang ingin sekali menjelajahi Indonesia bagian Timur. Bakalan seru katanya. Tidak seperti teman-teman kita yang lain, Deden tidak mau ditempatkan di BI Pusat di Jakarta. Deden lebih suka suasana kota yang tidak terlau bising dengan hiruk pikuk aktivitasnya. Penempatan tersebut cukup sedih juga karena kita berempat masing-masing ditempatkan di daerah yang berbeda-beda, berjauhan pula dari ujung barat, tengah, hingga ujung timur Indonesia. Itu berarti bahwa kita pun nantinya akan jarang untuk bertemu ramai-ramai untuk sekedar nongkrong dan bertukar cerita. Pada hari terakhir itu, masih membekas di ingatan saya bahwa Deden ingin sholat di Masjid Istiqlal. Saya dan Dickky pun setuju. Sementara Rizki tidak bisa ikut pada waktu itu. Pada saat itu, kita memperdebatkan tentang hal yang cukup unik, yakni tentang kendaraan apa yang akan kita gunakan, apakah mobil Dickky, Bus, atau taksi? Saat itu Deden dengan yakin dan bersemangat mengajak kita untuk menggunakan bajaj. Hahahaha. Lalu pergilah kami bertiga memakai bajaj kecil dengan eksotisnya, meskipun kami harus berdesak-desakan. Namun rame dan asyik sekali pada saat itu. Hahaha. Kami ngobrol dan tertawa-tawa di bajaj tersebut, membicarakan berbagai hal sepanjang jalan. Saya masih teringat akan pertanyaan dan nasihat dari Deden saat itu:

“Pas nanti kita sudah di BI daerah, kita masih bisa kayak gini gak ya? Ketawa-tawa, ngobrol-ngobrol kayak gini. Aku takutnya kita pada berubah entar. Nanti jangan pada berubah ya...”  Ucap Deden dengan riang diiringi simpul senyumnya yang ramah, sedangkan matanya memandang jauh ke arah kubah Istiqlal.

Tidak disangka, ternyata saat itu adalah saat terakhir saya melihat Deden. Beberapa bulan setelah kami kami bekerja di BI daerah masing-masing, belum muncul juga kesempatan kami untuk bisa bertemu lagi satu sama lain. Paling hanya via media sosial atau chatting saja.

Hari itu, Selasa shubuh, entah kenapa saya sudah merasa siap untuk pergi ke kantor pagi-pagi. Saya malah sudah siap-siap sebelum shubuh. Namun begitulah, tak peduli seberapa semangat pun saya pada hari itu, ternyata berita besar datang menghampiri saya. Takdir Allah memang harus tiba pada waktunya. Shubuh itu, saya masih ingat Enggar mengonfirmasi bahwa Deden telah meninggal dunia akibat kecelakaan tunggal di Papua.

Saat itu, saya betul-betul tidak percaya dan saya abaikan karena Enggar memang selalu bercanda dan suka dibercandain di group WhattsApp oleh anak-anak kelas C. Namun demikian, lama-kelamaan kondisi terasa makin aneh. Setelah saya tinggal beberapa saat, notifikasi di WhattsApp terus bertambah hingga ratusan, mengonfirmasi kebenaran meninggalnya Deden. Ternyata betul. Deden telah pergi, meninggal saat dalam perjalanan tugas kantor di jalan menuju Bandara. Saya langsung lemas. Terdiam. Jantung saya entah kenapa berdetak lebih cepat. Badan terasa lebih hangat dari biasanya, bergetar. Saya terdiam. Lalu tak terasa air mata mengalir dengan sendirinya. Pada saat pagi itu pun saya sempatkan untuk menelepon Dickky guna mengonfirmasi kebenaran berita tersebut. Bahkan air mata pun tidak berhenti saat saya mengendarai sepeda motor saya ke kantor. Sepanjang perjalanan selalu terbersit kenangan akan betapa baiknya Deden pada saya dulu. Orang yang selalu ceria, tidak pernah mengeluh, dan selalu peduli terhadap teman-temannya. Dan kini sosok baik hati itu sudah tidak ada lagi di dunia yang saya tinggali. Saya juga masih teringat akan mimpi Deden untuk melanjutkan kuliah S2-nya di luar negeri. Sama halnya dengan saya, Dickky, dan Rizki yang ingin melanjutkan sekolah di luar negeri. Sebuah keinginan yang mungkin terasa berat, namun tidak ada salahnya menginginkan atau memimpikan hal-hal yang baik, bukan?

Pagi itu pula, di kantor kebetulan ada agenda sharing rutin setiap hari selasa di kantor pagi-pagi. Air mata saya tahan dan sembunyikan selama sharing tersebut berlangsung. Namun, di akhir acara Kepala BI di Aceh juga ikut mengumumkan tentang berita tersebut. Saat itu pun, saya sudah tidak bisa lagi menahan air mata saya. Saya menangis lagi saat mendengar pengumuman dari beliau tersebut. Terlihat cengeng, bukan? Namun itulah mungkin bukti akan betapa besarnya perbuatan baik yang dilakukan oleh Deden kepada saya dan yang lainnya sehingga saat kehilangan sosok tersebut untuk selama-lamanya terasa berat dan memilukan, apalagi hal tersebut terkesan begitu tiba-tiba. Kematian memang datang tanpa suara. Yoga dan Fadhil akhirnya bisa menenangkan saya. Ya, saya benar-benar masih berada dalam zona percaya dan tidak percaya akan kejadian ini. Terasa terlalu cepat. Terasa terlalu singkat, namun saya percaya bahwa itu adalah jalan dan waktu yang terbaik bagi Deden untuk kembali kepada penciptanya.

Saat kalian melihat status dari Deden di BBM dan Twitter pribadinya, kalian akan melihat bahwa mungkin status itu memberikan pertanda bahwa Deden akan segera mendahului kita bertiga.




Jenazah Deden akhirnya diterbangkan ke Jakarta untuk selanjutnya dibawa ke Surabaya untuk dikebumikan. Dickky yang ditempatkan di Jakarta ikut mengiringi jenazah hingga ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Surabaya. Sedih sekali tatkala saya yang di Aceh dan Rizki yang di Palu tidak bisa mengiringi Deden untuk yang terakhir kalinya.

Begitulah persahabatan kami dengan Deden. Mungkin kalau dihitung, umur perkenalan di antara kita kurang lebih baru setahun saja. Namun ikatannya terasa sangat kuat dan tulus. Persahabatan yang baik dan tak terlupakan itu tidak hanya milik mereka para remaja yang duduk di bangku SMA. Saat kita kuliah, saat kita bekerja, kita akan bertemu dengan orang-orang baru yang akan mewarnai kehidupan kita di fase kehidupan selanjutnya. Dan mereka, tentu akan menjadi salah satu dari sahabat-sahabat terbaikmu. Buatlah ikatan persahabatan yang tulus dan kuat. Saling mendukung satu sama lain. Jagalah persahabatan itu hingga nanti kalian menikah, hingga masing-masing dari kalian telah renta, hingga pada saat kalian menoleh ke belakang, yang tersisa hanyalah keindahan dari ukhuwah dan persahabatan yang kalian bangun berdasarkan kasih dan kejujuran. 

Juga, bersyukurlah jika sahabat-sahabat kalian itu masih ada di dunia ini. Karena ketika sudah berbeda alam nantinya, mungkin hanya doa dan mimpi yang bisa mempertemukan silaturrahim kalian. Seperti halnya yang saya, Dickky, dan Rizki alami saat ini.

Ya, meskipun kita sudah berbeda alam dengan Deden, namun almarhum selalu mempunyai tempat khusus di hati kita. 

Sampai jumpa Deden, sahabat kita yang mulia budinya, baik hatinya, serta ramah pembawaanya.

---------------------------------------------------------------

Note:
Seminggu setelah wafatnya Deden, saya mendapatkan kesempatan untuk dinas ke Jakarta. Saya bertemu Dickky di sana. Kami sepakat untuk ikut kegiatan #saferunning 10k di sana. Kita sepakat berlari untuk Deden, #run4deden kami menamainya karena Deden juga suka lari dan merupakan anggota BI Runner sewaktu masa pendidikan dulu. Akhirnya meskipun dengan tertatih-tatih, saya dan Dickky berhasil menyelesaikan lari sepanjang 10k. Farewell, cak Deden! Kami persembahkan medali ini buatmu, cak!

#run4deden


In Memoriam : Aperiden Akbar, 1990-2015

UPDATE : Kita sudah reunian kemarin. Simak cerita reuni kami di sini

Tuesday, April 7, 2015
Posted by Ridwan Sobirin

Holiday (With Keponakan)


Hi everyone who checks out my blog! Let's talk a little bit about holiday! Yaaay!
Yes, the holiday season (Particularly Lebaran Holiday) is my favorite time of the year. It can put everything aside and just be surrounded by the people I love and the people that love me.

Last month, I went to Taman Raya Cibodas together with my nieces (Nina & Indri) and nephews (Reza & Rizky). It was really fun and refreshing! The weather was so perfect. The wind was so soft and slow. Blue sky. Green grass. Ahh, everything was so perfect, I suppose. We played the big ball and ran from spot to spot. Haha. From morning till late afternoon.

The thing that I love most about the holiday is that it’s a time for me and my family to get together and celebrate the the joy and the excitment of life. 

My family (As well as yours, I believe) has been a big part of my (your) growing up. They have taught me to be grateful, to be proud of myself, to always cherish the life that I have. 

I will always cherish all the memories I have of my family because they have all made me like the person I am today. 

How about you? 

Make sure to take time out of your busy schedule to spend an afternoon with family or even make a weekend trip with them. Always get in touch with them and catch up on each of their lives. The really miss you for sure

Okay, there's no time for waiting, take a look at our photos below which were taken in Taman Raya Cibodas. Hope you always have a wonderful time with your family there. Cheerio! :)











Wednesday, August 20, 2014
Posted by Ridwan Sobirin

Work-Life Balance at Bank Indonesia

Work-life balance.
I think Bank Indonesia is really a great place to work, grow, and have a lot of fun with smart, humble, and kind-hearted people. We have tons of activities, opportunities, and extracurricular which connect us to the thing that we call as "Passion and work-life balance". I think these pictures below can speak more. Enjoy!

Cheers! :)




































Friday, July 25, 2014
Posted by Ridwan Sobirin
Tag :
Ridwan Sobirin. Powered by Blogger.

- Copyright © Ridwan's Personal Light Thoughts -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -